• FYI

    Sempat Terhenti karena Terjadi Kebakaran, Tim PNRA UKL RC XXXVI Selesaikan Pembuatan 4 Jalur Sport di Tebing Gunung Bongkok Purwakarta


    Rock climbing merupakan salah satu bagian dari kegiatan Mountaineering yang paling penting,yang sangat memerlukan kecakapan mendaki tebing batu yang terjal, kemampuan dalam menganalisa yang tinggi, mental baja, serta ketahanan fisik yang besar. Secara etimologis Rock Climbing terdiri dari dua kata yaitu rock dan climbing. Rock berarti batuan dan climbing berarti pemanjatan. Jadi Rock climbing yaitu teknik memanjat tebing batu dengan memanfaatkan cacat batuan, baik tonjolan maupun rekahan yang mempunyai kemiringan tebing lebih dari 70°.

    Panjat tebing adalah seni olahraga atau hobi yang dilakukan dengan mengandalkan kelenturan, kekuatan otot, kecerdikan, dan keterampilan, baik menggunakan peralatan maupun tidak, dalam menyiasati tebing itu sendiri dengan memanfaatkan cacat batuan untuk memanjat mencapai puncak tertinggi.

    Jalur Sport dan Tingkat Kesulitannya

    Pembuatan jalur sport biasanya dilakukan untuk menambah keberagaman jalur sebagai sarana latihan atau bahkan pengadaan dan perbendaharaan jalur pada tebing yang belum memiliki jalur sport. Teknis pembuatan jalur sport, yakni dengan cara memanjat terlebih dahulu ke puncak tebing dengan menggunakan jalur yang sudah ada, lalu memasang sistem untuk single rope technique pada jalur yang ingin dibuat dengan tambatan berupa hanger dan memberi identitas pada jalur tersebut dengan perizinan kepada orang yang bertanggung jawab pada sektor tebing tersebut. Sesudah itu, melakukan penentuan titik untuk memasang hanger, dan selanjutnya melubangi tebing dengan alat pengebor berbaterai. Tahap selanjutnya dilanjutkan dengan pemasangan hanger dan melakukan pemanjatan di jalur yang sudah dibuat.

    Pembuatan jalur sport di tebing Gunung Bongkok Purwakarta menghasilkan 4 jalur dengan grade yang berbeda-beda. Tim PNRA UKL RC XXXVI melakukan penghitungan tingkat kesulitan (grade) dengan memakai sistem penghitungan dari Amerika Serikat, yaitu Yosemite Decimal System (YDS) yang saat ini banyak digunakan untuk menentukan grade kesulitan panjat tebing

    Sistem ini menentukan tingkat kesulitan tebing dengan angka dari 1 sampai 5, tetapi hanya grade 5 yang digunakan untuk panjat tebing. Grade 1 sampai 4 digunakan untuk menggambarkan berjalan dengan sedikit kesulitan, dan grade 5.0 berjalan dengan scramble yang sulit. Terkadang, ada pula huruf yang ditambahkan di belakang angka tingkat kesulitan, seperti misalnya 5.14a, atau 5.14b. Penambahan huruf seperti ini dilakukan karena banyaknya variasi jalur pemanjatan. Pengkategorian demikian biasanya digunakan untuk jenis pendakian free-climbing atau free-soloing (memanjat sendiri tanpa alat bantu dan pengaman apapun, biasanya pada jalur pendek).

    Secara umum grading dengan YDS dapat dijelaskan sebagai berikut:
    5.1 – 5.4 Cocok untuk pemula karena tergolong mudah. Biasanya pada tanjakan curam memiliki pegangan tangan dan pijakan yang besar.
    5.5 – 5.8 Dibutuhkan keterampilan panjat tebing pemula hingga menengah. Pijakan dan pegangan kecil. Sudut rendah ke medan vertikal.
    5.9 – 5.10 Pendakian yang termasuk sulit ini membutuhkan keterampilan khusus. Teknis dan vertikal mungkin memiliki overhang.
    5.11 – 5.12 Pendaki yang bisa mencapai level ini biasanya punya jam terbang tinggi. Teknis dan vertikal memiliki overhang dengan pegangan kecil.
    5.13 – 5.15 Rute ini diperuntukkan bagi pendaki ahli yang berlatih secara teratur dan punya banyak kemampuan alam.

    Terdapat 2 teknik yang populer dalam pembuatan jalur, yaitu pembuatan jalur secara tradisional dan secara modern. Beberapa teknis pembuatan jalur sebagai berikut:
    1. Bolting jalur sport dengan cara aid climbing/artificial climbing
    Cara ini dilakukan dengan melakukan aid/artificial climbing pada jalur yang diinginkan kemudian pada berapa titik yang telah ditentukan, gunakan pengaman sisip pada celah atau rekahan tebing lalu lakukan bolting atau rebolting.
    2. Bolting jalur sport dengan cara rapelling
    Cara ini dapat dilakukan dengan memasang tali transportasi terlebih dahulu tepat pada jalur yang diinginkan, kemudian lakukan rappelling dari atas tebing dan lakukan bolting atau rebolting pada titik-titik yang sudah ditentukan.
    3. Bolting jalur sport dengan cara ascending
    Cara ini dapat dilakukan dengan memasang tali transportasi terlebih dahulu tepat pada jalur yang diinginkan, kemudian lakukan ascending dari bawah tebing dan lakukan bolting atau rebolting pada titik-titik yang sudah ditentukan.



    Pembuatan Jalur Sport Gunung Bongkok

    Pembuatan jalur sport telah dilaksanakan oleh Tim PNRA UKL RC XXXVI bertempat di Tebing Gunung Bongkok, Purwakarta. Sebanyak 4 jalur sport yang berhasil dibuat ini mengambil lokasi di sektor Batu Topi dan Vertical Nightmare. Tebing ini berpotensi untuk menjadi sarana bagi para pemanjat pemula, tentunya dengan dilengkapi perlengkapan yang sangat memadai.

    Tebing Gunung Bongkok secara administratif berada di Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta. Peta dan koordinat GPS-nya yaitu 107o20’15,0” BT dan 06o36’06,1” LS, dengan puncak tertinggi yaitu Watu Tumpuk dengan ketinggian 975 mdpl.

    Tebing ini dapat dijangkau melalui Pasar Plered menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat hingga sampai di lokasi parkiran Gunung Bongkok, dan sudah bisa terlihat jelas dari jauh posisi batu besar yang berdiri di sekitar 2 puncak yaitu Gunung Parang dan Gunung Lembu.

    Keadaan klimatologis di daerah Kabupaten Purwakarta beriklim panas, yang terbagi atas zona panas dan zona sedang. Suhu dapat berada di antara 22-32°C pada siang hari, dan 17-26°C pada malam hari, sedangkan suhu udara rata-rata di seputaran Gunung Bongkok berkisar 14°-26°C dengan kelembaban udara mencapai 95%. Secara agroklimatologi, Purwakarta berada di daerah lembab permanen dengan rata-rata curah hujan 3.039 mm/tahun.

    Tebing Gunung Bongkok secara administratif di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Batu Tumpang dan Desa Plered, sebelah timur berbatasan dengan Desa Cipucung dan Desa Pamoyanan, dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Cisarua.

    Gunung Bongkok adalah gunung setinggi 975 meter di atas permukaan air yang lokasinya berdekatan dengan Gunung Parang dan Gunung Lembu di Purwakarta. Tebing ini memiliki jenis batuan andesit yang terbentuk oleh pendinginan lava, sehingga Tebing Gunung Bongkok diklasifikasikan sebagai tebing batuan vulkanik.

    Gunung Bongkok lokasinya berdekatan dengan Gunung Parang di Purwakarta. Gunung tersebut memiliki sisi lain yang bisa digunakan untuk pemanjatan yang biasa disebut juga dengan Tebing Gunung Bongkok. Tebing ini memiliki jenis batuan andesit, lebar dinding tebing berkisar 25-27 meter, dengan ketinggian tebing sekitar 200 meter dan tingkat kesulitan yang cukup tinggi serta memerlukan keterampilan khusus, salah satunya di jalur 420.

    Berdasarkan data demografi pada situs web Desa Sukamulya, terdapat 1.467 Kepala Keluarga (KK) dengan 5.537 penduduk di desa tersebut yang terbagi atas 2.760 laki-laki dan 2.777 perempuan. Secara umum masyarakat Desa Sukamulya menggunakan bahasa daerah, yaitu Bahasa Sunda, dan Bahasa Nasional (Bahasa Indonesia) yang digunakan dalam keadaan formal. Sebagian besar masyarakat Desa Sukamulya bermata pencaharian sebagai buruh bangunan, petani yang bercocok tanam di sektor pangan/padi, dan peternakan.

    Beberapa jenis tumbuhan yang menjadi khazanah flora yang terdapat di area Tebing Bongkok Desa Sukamulya adalah Bunga Bangkai (Amorphophallus titanum), Anggrek Putih (Phalaenopsis amabilis), Pohon Aren (Arenga Pinnata), dan Jahe Merah (Zingiber Officinale Var Rubrum Rhizoma). Sementara itu, fauna yang ada di wilayah tersebut di antaranya beberapa jenis ternak, seperti domba (Ovis Aries), dan sapi (Bos Taurus). Kemudian, terdapat hewan langka yang pernah ditemukan yaitu Kukang (Nycticebus javanicus), Monyet Ekor Panjang (Macaca Fascicularis), dan Lebah (Anthophila).

    Tim PNRA UKL RC XXXVI pada tahap awal melakukan pembuatan jalur di sektor Vertical pada hari pertama dan kedua. Namun, pada saat di hari kedua tim sedang melakukan pembuatan jalur seperti biasanya, tapi tiba-tiba terjadi hal yang tak terduga. Pada siang harinya, tim dipanggil oleh warga setempat agar segera turun karena terjadi kebakaran di puncak Gunung Bongkok.

    Tim segera bergegas melepas tambatan dan melakukan packing. Ketika sedang packing, tim melihat batu dan bara api jatuh dari arah atas. Akhirnya tim berhasil turun dan ketika tiba di tempat camp terlihat puncak Gunung Bongkok sudah penuh asap.

    Setelah terjadi kebakaran tersebut, pada hari berikutnya Tim PNRA UKL RC XXXVI ikut serta melihat kondisi gunung bongkok bersama warga setempat. Tim kemudian mencari sektor tebing lain yang lebih aman, karena lokasi sebelumnya berada dalam area kebakaran dan masih ada kemungkinan bahaya batu jatuh dari atas. Akhirnya, tim memindahkan lokasi ke sektor Batu Wayang dan sektor Panyawangan.

    Pembuatan 4 jalur sport dilakukan selama 3 hari. Di jalur pertama terdapat 7 hanger, di jalur kedua terdapat 6 hanger, di jalur ketiga terdapat 5 hanger, dan di jalur yang terakhir terdapat 6 hanger. Total hanger yang dipasang adalah sebanyak 24 buah. Keempat jalur tersebut dinamakan Full Pull, Full Sloper, 15s, dan Climb or Plung.


    Sektor Batu Wayang di area kaki Gunung Bongkok tidak terlalu terkenal dan belum banyak terjamah oleh para pemanjat. Perjalanan untuk mencapai sektor ini membutuhkan waktu 15-20 menit dari camp Gunung Bongkok dengan menggunakan sepeda motor yang dilanjutkan dengan hiking menuju tebing. Jalur ini tidak disarankan untuk dipakai oleh pemanjat pemula karena memiliki tingkat kesulitan yang tinggi.

    Jalur A : Full Pull (5.11a), 7 Bolt
    Pembuat jalur: Tim Divisi RC UKL FAPET UNPAD
    Jalur B : Full Sloper (5.12c), 6 Bolt
    Pembuat jalur : Tim Divisi RC UKL FAPET UNPAD


    Sementara itu, Sektor Panyawangan berada di area perbatasan antara Gunung Bongkok dan Gunung Parang. Sektor ini sangat mudah diakses karena dekat dengan tempat wisata .yaitu Saung Panyawangan. Perjalanan untuk mencapai sektor ini memerlukan waktu sekitar 10-15 menit dari camp Gunung Bongkok dengan menggunakan kendaran bermotor dan tidak harus hiking terlebih dahulu ke lokasi. Jalur pemanjatan di sini dapat digunakan oleh pemanjat pemula karena tingkat kesulitannya tidak terlalu tinggi, bahkan terbilang sangat mudah.

    Jalur C : 15d (5.9c), 5 Bolt
    Pembuat jalur: Tim Divisi RC UKL FAPET UNPAD

    Jalur D : Climb or Plung (5.9c), 6 Bolt
    Pembuat jalur: Tim Divisi RC UKL FAPET UNPAD

    Tim PNRA UKL RC XXXVI mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan, baik moril maupun materil, dalam pelaksanaan kegiatan pembuatan jalur sport di Gunung Bongkok Purwakarta ini, hingga selesai dan mencapai tujuan yang direncanakan.

    Referensi:
    Afifah N.F., Amalia W., Zhafran F., Firdaus M., Ardiansyah R., Lintang B., 2021. Sekilas Panjat Tebing. Unit Kenal Lingkungan, Fapet UNPAD: Teras UKL
    Materi Dasar Rock Climbing
    Climbing Bouldering Rating
    Kenali Tingkat Kesulitan Panjat Tebing pada Sistem Peringkat

    Penulis: Tim PNRA UKL RC XXXVI
    Editor: M. Ulis

    No comments:

    Post a Comment

    Diklatsar

    Inspirasi

    Antara Kita